This is an example of a HTML caption with a link.
Reflection Learning
10 March 2015

"Praying, Reading, Reflection & Journaling"

 

Berdoa dengan Menulis

Berdoa dengan menulis oleh orang Inggris disebut "Journaling" atau membuat jurnal doa pribadi. Membuat jurnal doa tidak sama dengan membuat catatan harian atau diarium. Jika aku menjumpai seseorang, mendengar ucapan atau mengalami peristiwa yang mengesan, lalu menuliskan kesanku, aku mengungkapkan diriku yang nyata. Berdoa sambil menulis atau membuat jurnal doa itu seperti menulis surat kepada orang yang kukasihi (curhat). Dalam surat itu, kenangan lama dibangkitkan, keyakinan dicetuskan dan afeksi menyembul keluar. Sambil menulis, perasaanku diperdalam dan diperpanjang. Membuat jurnal doa sering membantu menemukan perasaan-perasaan negatif seperti ketakutan dan dendam yang lama tersimpan di bawah sadar dan tanpa disadari ternyata meracuni kegembiraan hidup. Ada beberapa variasi cara membuat jurnal doa. Misalnya:

a. Membuat surat kepada Bapa di surga mengenai suatu peristiwa yang mengesan.

b. Menuliskan suatu dialog batin, antara aku sendiri dengan seseorang yang kuhargai atau suatu peristiwa yang kualami atau insight atau kebijaksanaan yang baru aku temukan.

c. Membiarkan Yesus atau seorang tokoh dari Kitab Suci berbicara kepadaku lewat kertas dan alat tulis, sehubungan dengan suatau peristiwa yang kualami atau suatu kutipan Kitab Suci / teks yang kurenungkan.

Jadi dalam "journaling" yang penting adalah "berdoa" dengan "menulis". Aku mengungkapkan perasaanku kepada DIA yang kuajak berbicara.

 

Berdoa dengan Membaca

St. Fransiskus dari Sales, sebagai pembimbing rohani, mempunyai sebuah nasehat tentang doa, yang kurasa membantuku waktu terasa kering dan buntu. Isi singkatnya: "Bila kamu tidak mendapatkan penghiburan hati dalam doamu, jangan tawar hati. Bukalah buku dan bacalah! Setiap kali berhentilah membaca dan ambillah waktu untuk berdialog dengan Bapa atau dengan Yesus; dialog yang timbul dan mengalir dari kalimat yang baru saja kamu baca." Bahan bacaan sebaiknya yang inspiratif misalnya Kitab Suci, puisi, atau teks tertentu. Contoh bacaan yang dapat dipakai untuk berdoa adalah tulisan St. Agustinus di bawah ini. Di masa mudanya, Agustinus menikmati hidupnya dengan berfoya-foya. Tersentuh oleh kotbah St. Ambrosius, Agustinus bertobat pada tahun 387. Dalam pengakuannya (Confessiones), ia menulis:

"Terlambat sudah aku mencintai-Mu

O keindahan bahari, baru selalu!

Terlambat sudah aku mencintai-Mu.

Lihatlah, Engkau berada di dalam diriku dan aku tetap di luar-Mu.

Dari luar aku mencari-Mu. Dan lihatlah, aku yang bejat ini

Telah mengejar bentuk-bentuk keindahan yang Engkau ciptakan. dst...

 

 

Tim Ragawidya, Kitab Putih: Untuk Mereka yang Masih Waras!, 2014

Copyright © SMK PIKA 2012 Friday, 20-10-2017